ENG

Melalui KTT IORA, Menlu Retno Dorong Kerja Sama RI-Mauritius

Jakarta, IORA - "Dalam kunjungan saya ke Afrika bulan lalu, saya sangat terkesan dengan potensi benua ini. Afrika saat ini menjadi prioritas dalam kebijakan luar negeri RI, khususnya dalam konteks diplomasi ekonomi," ujar Menlu Retno L.P. Marsudi saat mengadakan pertemuan dengan Menlu Mauritius Seetanah Lutchmeenaraidoo, di sela-sela rangkaian KTT IORA, di Jakarta Convention Center (6/3).

Menlu Retno menyampaikan apresiasi atas partisipasi Mauritius dalam KTT IORA. Dijelaskan bahwa melalui IORA, Indonesia ingin menunjukkan komitmen terhadap Afrika, terlebih hubungan RI – Afrika telah terbangun sejak 1955.

"Mauritius sebagai investor asal Afrika terbesar di Indonesia. Angka investasi Mauritius di Indonesia tahun lalu sebesar US$ 576,5 juta pada 250 proyek, atau melonjak sebesar 12 kali lipat dari angka invetasi tahun 2015 pada angka US$ 30,67 juta," jelasnya.

Selanjutnya, Menlu Retno mendorong Mauritius untuk melakukan diversifikasi investasi mereka di Indonesia. Untuk itu, Indonesia mengundang para investor berpartisipasi aktif dalam pengembangan sektor-sektor lainnya seperti infrastruktur, energi, pertanian dan sebagainya.

Menlu Lutchmeenaraidoo menyampaikan selamat atas keberhasilan keketuaan Indonesia di IORA periode 2015 – 2017. Pihaknya mencatat berbagai kemajuan yang dicapai selama Keketuaan Indonesia, termasuk disepakatinya Jakarta Concord dan Plan of Action, sebagai fondasi kokoh bagi kerja sama regional di Samudra Hindia.

Sebagai sesama negara maritim, Indonesia dan Mauritius sama-sama berkepentingan untuk memajukan kerja sama maritim antara negara anggota IORA, termasuk melalui penerapan teknologi canggih penginderaan jarak jauh untuk keperluan industri perikanan.

Menutup pembicaraan, Menlu Retno menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk terus bekerja keras memberantas kejahatan lintas negara, termasuk IUU Fishing.

"Kejahatan di laut, seperti IUU Fishing, sangat erat terkait dengan bentuk-bentuk kejahatan lintas negara seperti perbudakan, narkoba, dan penyelundupan senjata. Kejahatan ini dapat mengganggu keamanan dan stabilitas nasional dan kawasan. Kita harus bekerja sama, termasuk dalam konteks IORA, untuk memberantas semua bentuk gangguan tersebut", pungkasnya.

Sumber: Kementerian Luar Negeri